<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>safety in the sky</title>
	<atom:link href="http://poerwodewe.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://poerwodewe.wordpress.com</link>
	<description>no one&#039;s perfect, but that&#039;s not a reason for making an error</description>
	<lastBuildDate>Thu, 26 Jan 2012 03:53:11 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='poerwodewe.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>safety in the sky</title>
		<link>http://poerwodewe.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://poerwodewe.wordpress.com/osd.xml" title="safety in the sky" />
	<atom:link rel='hub' href='http://poerwodewe.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>JUST CULTURE</title>
		<link>http://poerwodewe.wordpress.com/2010/12/23/just-culture/</link>
		<comments>http://poerwodewe.wordpress.com/2010/12/23/just-culture/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 23 Dec 2010 02:10:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dheltawhiskey</dc:creator>
				<category><![CDATA[atc]]></category>
		<category><![CDATA[ats]]></category>
		<category><![CDATA[culture]]></category>
		<category><![CDATA[just culture]]></category>
		<category><![CDATA[radar]]></category>
		<category><![CDATA[safety]]></category>
		<category><![CDATA[safety cultura]]></category>
		<category><![CDATA[tower]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://poerwodewe.wordpress.com/?p=73</guid>
		<description><![CDATA[Hello prend&#8230;. ngomongin JUST CULTURE yuk&#8230;.. Hahaha&#8230;udah jadul yah&#8230;.?? Ah..gak juga tuh&#8230; Salah satu kunci sukses dalam mengimplementasikan Safety Regulation adalahpenerapan prinsip Just Culture, yaitu bagaimana mengelola “blame” dan “punishment”. Saya mencoba bertanya ke beberapa orang, apaan sih yang dimaksud JUST CULTURE&#8230;??? Jawabannya muacem-macem boss.. apa karena artikel yang dibaca sumbernya beda-beda, ato yang ngajar [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=poerwodewe.wordpress.com&amp;blog=2870979&amp;post=73&amp;subd=poerwodewe&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://poerwodewe.wordpress.com/2010/12/23/just-culture/justice-2/" rel="attachment wp-att-80"><img class="alignnone size-full wp-image-80" title="justice" src="http://poerwodewe.files.wordpress.com/2010/12/justice1.jpg?w=490" alt=""   /></a></p>
<p>Hello prend&#8230;. ngomongin JUST CULTURE yuk&#8230;..<br />
Hahaha&#8230;udah jadul yah&#8230;.?? Ah..gak juga tuh&#8230;</p>
<p>Salah satu kunci sukses dalam mengimplementasikan Safety Regulation adalahpenerapan prinsip Just Culture, yaitu bagaimana mengelola “blame” dan “punishment”.</p>
<p>Saya mencoba bertanya ke beberapa orang, apaan sih yang dimaksud JUST CULTURE&#8230;??? Jawabannya muacem-macem boss.. apa karena artikel yang dibaca sumbernya beda-beda, ato yang ngajar beda ya?(perasaan ga pernah diajarin materi kaya ginian deh).. atau pada ngarang biar ga dibilang KUPER ya&#8230;? hehe.. <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> <span id="more-73"></span></p>
<p>So inilah jawaban mereka&#8230;<br />
1. Just Culture adalah hanya budaya, just=hanya dan culture = budaya (ini jawaban mayoritas meskipun dengan penjelasan yang bermacam-macam and so pasti puanjaang..)<br />
2. Just Culture adalah budaya keadilan (hmm.. just-nya singkatan dari justice kali yah&#8230;)<br />
3. Ada lagi jawaban lain yang saya sendiri lupa kaya gimana abis bukannya bikin ngerti tapi malahan jadi bingung&#8230; bukannya salah sih tapi puaanjaang&#8230;</p>
<p>BTW&#8230; alias by the way, saya coba mencari dan mengumpulkan artikel terkait JUST CULTURE itu sendiri dari mbah Google yang terkenal itu, karena saya menganggap sudah semestinya prinsip Just Culture ini diterapkan di tempat kita cari makan&#8230;ups kurang halus ya bahasanya&#8230;OK diganti “tempat kita mengabdi”&#8230; <img src='http://s1.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_wink.gif' alt=';-)' class='wp-smiley' /> </p>
<p><strong>DEFINISI</strong><br />
Banyak Artikel yang menjelaskan tentang Just Culture ini, karena sebenarnya ini istilah umum dan banyak organisasi lain (non penerbangan) yang juga telah meng-aplikasi-kan prinsip Just Culuture ini. Kalau begitu.., kita fokus pada masalah Aviation Safety saja, atau lebih fokus lagi ke masalah ke-ATC-an saja lah ya&#8230;</p>
<p>Dari postingan artikel pada www.dgca-catt.org tanggal 26 mei 2009 (cuman ngliat bahasanya sih terjemahan dari Google&#8230;hehe) menyebutkan bahwa istilah Just Culture dipakai oleh ICAO dan industri penerbangan untuk membiasakan orang-orang tidak disalahkan atas kekeliruan yang dikerjakan melainkan dituntut untuk bertanggung jawab atas tindakannya, belajar dari kesalahan sendiri dan kesalahan orang lain.</p>
<p>Artinya Just Culture merupakan budaya yang fair alias adil, adil bagi individu maupun organisasi atau instansi. Maksudnya lagi adalah tenaga operasional (ATC) percaya ama management-nya dan sebaliknya para manager juga percaya kepada tenaga operasional-nya. Segala ancaman resiko bahkan insiden dibicarakan secara terbuka dengan pola pikir dan cara pandang yang sama yaitu untuk menambah pengetahuan mengenai strategi bagaimana cara meningkatkan safety.</p>
<p>Saya lebih jelas lagi dengan pemaparan Roderick D. van Dam (Head of Legal Service, EUROCONTROL) pada ICAO / ASPA Regional Seminar, 10-11 April 2007 di Mexico (cuman sayang saya ga diundang&#8230;;P) . Yang dimaksud Just Culture yaitu:</p>
<p>“A culture in which front line operators or others are not punished for actions, omissions or decisions taken by them that are commensurate with their experience and training, but where gross negligence, wilful violations and destructive acts are not tolerated”</p>
<p>Just Culture memperlakukan manusia dengan adil dan mengakui bahwa manusia bisa berbuat salah, kesalahan yang benar-benar tidak disengaja merupakan hal yang wajar. Tidak langsung memberikan judgement bahwa tindakan dan keputusan buruk yang diambil dari seorang ATC merupakan kesalahan dan harus dihukum. Namun demikian Just Culture juga tidak memberikan toleransi terhadap kecerobohan dan kesengajaan (pelanggaran murni) yang mengakibatkan kesalahan berulang sehingga membahayakan safety.</p>
<p>Kesimpulannya adalah Just Culture adalah Budaya Berimbang atau Adil (Horee jawaban di atas ternyata ada yang benar&#8230;..piss)</p>
<p><strong>KOMPONEN UTAMA</strong><br />
Menurut Roderick D. van Dam Ada dua komponen utama mengenai Just Culture itu sendiri, yaitu:<br />
1. No Punished<br />
Yang tidak pantas mendapatkan punishment adalah segala kesalahan akibat dari tindakan, langkah dan keputusan yang diambil oleh ATC berdasarkan pengetahuan yang mereka peroleh dari training dan pengalaman yang dimiliki.</p>
<p>2. No Tolerated<br />
Yang tidak bisa ditolerir adalah kelalaian/ kecerobohan, pelanggaran yang disengaja dan tindakan destruktif/ merusak.</p>
<p>Sebuah artikel menarik dari Fuad Abdullah, VP Quality Assurance and Safety (GMF Aero Asia) dalam www.tabloidaviasi.com mencontohkan:<br />
Ada dua perbuatan yang menimbulkan hasil atau akibat yang relatif sama yakni membahayakan diri sendiri. Pada kasus pertama yaitu anak bermain bola di jalan raya, akibatnya (kecelakaan) mungkin terjadi dan mungkin tidak terjadi. Pada kasus kedua yaitu anak bermain sepeda, akibat (kecelakaan) anak jatuh sudah terjadi.<br />
Jika hukuman yang kita berikan hanya didasari atas hasil atau akibat, anak yang jatuh dari sepeda tentu mendapat hukuman lebih berat. Tapi, jika kita timbang dari sudut pandang lain, tentu berbeda kesimpulannya.<br />
Kasus anak bermain bola di jalan raya dilakukan dengan sengaja. Sedangkan anak jatuh dari sepeda bisa dipastikan tidak sengaja. Faktor sengaja dan tidak sengaja ini harus menjadi pertimbangan utama menentukan apakah suatu perbuatan patut mendapat hukuman atau tidak, serta menentukan kadar hukuman. Hukuman dijatuhkan bertujuan agar si terhukum tidak mengulangi lagi di masa mendatang.<br />
Hukuman hanya efektif dan produktif untuk perbuatan yang dilakukan dengan sengaja. Sedangkan menghukum orang yang tidak sengaja melakukan ”kesalahan” tidak efektif dan bahkan kontra produktif. Menghukum anak yang jatuh saat belajar bersepeda bisa berdampak tidak produktif yaitu anak tidak mau lagi belajar bersepeda.<br />
Jadi kalau ada pesawat melakukan go arround, nearmissed atau mengirimkan komplain, perlu dikaji dan dilihat dahulu apa yang melatarbelakanginya. Tindakan go arround, nearmissed, komplain dan lain-lain yang pada jaman dahulu menjadi momok ATC, merupakan akibat. Jika ada yang bertanya, bagaimana kalau disengaja? Lha saya balik bertanya, ah masa iya sih ATC sengaja melakukannya? Berdasarkan pengalaman saya, ATC (di ruangan ber-AC saja) bermandi keringat jika terjadi kepadatan traffic. Mereka berusaha bagaimana caranya menyelamatkan ribuan nyawa dalam pesawat yang dipandunya. Dimana letak unsur kesengajaan jika terjadi hal-hal tersebut. Jika dari hasil investigasi membuktikan adanya kesalahan, saya bisa menyimpulkan kemungkinan besar kesalahan tersebut bukan disengaja.<br />
Kesalahan secara tak sengaja biasa disebut error dan kesalahan yang disengaja disebut violation. Jika dilihat dari akibat, baik error maupun violation sama. Yang membedakan hanya intention atau niatnya. Error merupakan sesuatu yang manusiawi (to error is human) dan setiap orang pernah melakukannya. Karena itu error harus diterima secara apa adanya.<br />
Human error tidak mungkin dihilangkan sama sekali, tapi bisa dikelola lewat penerapan teknologi yang tepat, pelatihan berkesinambungan, dan implementasi aturan yang konsisten.</p>
<p><strong>MEMBANGUN JUST CULTURE</strong><br />
Kembali pada Just Culture. Untuk membangun Just Culture/ budaya adil sekurangnya harus didukung tiga kebijakan utama.</p>
<p>Pertama, kebijakan tentang pelaporan yang bebas dan jujur (free and frank reporting system) yang harus dibangun dengan komitmen kuat seluruh pimpinan organisasi. Sistem ini harus non punitive yakni seseorang tidak dihukum karena membuat laporan, termasuk laporan yang melibatkan dirinya. Pada situasi dan kondisi tertentu dia bahkan patut mendapat apresiasi.</p>
<p>Kedua, kebijakan tentang batasan perilaku yang bisa diterima dan tidak bisa diterima. Batas antara hal yang harus dilakukan (do) dan yang tidak boleh dilakukan (don’t) harus jelas. Daftar ‘‘halal-haram ‘‘ ini bertujuan menghancurkan norma ‘sesat ‘ yang mengurat akar dalam kelompok kerja.</p>
<p>Ketiga, kebijakan tentang penerapan disiplin atau Disciplinary Policy yakni peraturan atau kebijakan tentang kadar atau tingkat hukuman. Dalam menjatuhkan hukuman harus mempertimbangkan berbagai faktor, termasuk sengaja atau tidaknya suatu perbuatan.</p>
<p>Hampir semua organisasi yang menerapkan Safety Management System (SMS) dengan baik, membangun Disciplinary Policy mengacu pada Culpability Chart-nya Prof. James Reason dari University of Manchester United Kingdom. Beberapa organisasi melakukan sedikit modifikasi dan penyederhanaan. (Fuad Abdullah, www.tabloid aviasi.com)</p>
<p><strong>IMPLEMENTASI JUST CULTURE</strong><br />
Bagaimana Just Culture bisa diimplementasikan?<br />
1. Melihat kembali dan meng-implementasi-kan mana saja regulasi, struktur dan prosedur yang bisa segera dilaksanakan, baik yang sifatnya Lokal (SOP, Skep Direktur, dll), Nasional (UU no.1 2009, CASR, dll) dan Internasional (Doc. ICAO, Annexes, dll)<br />
2. Tidak hanya fokus pada masalah legal formal regulasi yang ada, melainkan juga melakukan dialog/ seminar-seminar safety antara pihak-pihak yang terkait( regulator, management ANSP, ATC), membangun kepercayaan dan komunikasi, serta melaksanakan training-training yang recomended.<br />
3. Menghormati peran dan tanggung jawab masing-masing pihak<br />
4. Melakukan pendekatan kolaborasi dari semua pihak terkait<br />
5. Menggunakan tehnik dan pengalaman terbaik<br />
6. ATC melaporkan segala sesuatu yang menyangkut safety, dan management menngelola laporan yang diterima sebagai aset dalam meningkatkan safety.</p>
<p>Yang terakhir sahabat sekalian, penerapan Just Culture sudah sepatutnya diterapkan di lingkungan kerja kita. Tidak hanya slogan dan kampanye saja. Kita permudah langkahnya. Mulai sekarang jangan ragu melaporkan segala sesuatu yang menyangkut safety.</p>
<p>Kebenaran mutlak hanyalah milik Allah Al &#8211; Haq, yang salah adalah produk manusia. Kalau ada yang salah mohon diingatkan. Silahkan berkomentar demi kemajuan kita bersama. Khususnya kemajuan saya &#8230; hehe&#8230; tks..</p>
<p>Dheny Purwo H.<br />
Radar Controller, ATS Soe-Ta</p>
<p>&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/poerwodewe.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/poerwodewe.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/poerwodewe.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/poerwodewe.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/poerwodewe.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/poerwodewe.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/poerwodewe.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/poerwodewe.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/poerwodewe.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/poerwodewe.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/poerwodewe.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/poerwodewe.wordpress.com/73/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/poerwodewe.wordpress.com/73/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/poerwodewe.wordpress.com/73/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=poerwodewe.wordpress.com&amp;blog=2870979&amp;post=73&amp;subd=poerwodewe&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://poerwodewe.wordpress.com/2010/12/23/just-culture/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/dd6b87504e8951bb0bca13bd13209fe3?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">poerwodewe</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://poerwodewe.files.wordpress.com/2010/12/justice1.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">justice</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ketiduran adalah Malapetaka</title>
		<link>http://poerwodewe.wordpress.com/2008/11/13/ketiduran-adalah-malapetaka/</link>
		<comments>http://poerwodewe.wordpress.com/2008/11/13/ketiduran-adalah-malapetaka/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Nov 2008 03:42:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dheltawhiskey</dc:creator>
				<category><![CDATA[atc]]></category>
		<category><![CDATA[bablas]]></category>
		<category><![CDATA[pesawat]]></category>
		<category><![CDATA[pilot]]></category>
		<category><![CDATA[tidur]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://poerwodewe.wordpress.com/?p=50</guid>
		<description><![CDATA[Artikel kali ini mengingatkan kepada sahabat-sahabat saya seprofesi untuk senantiasa berhati-hati dalam menjalankan aktivitas sebagai controller. Karena tidak semua error yang terjadikarena kesalahan ataupun kelengahan kita dalam menjalankan profesi kita sebagai ATC. Bukan berarti ini adalah pembenaran bagi kita, melainkan hanyalah peringatan bahwa kesalahan itu bisa terjadi pada siapa saja, kapan saja dan di mana [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=poerwodewe.wordpress.com&amp;blog=2870979&amp;post=50&amp;subd=poerwodewe&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://poerwodewe.files.wordpress.com/2008/11/ketiduran2.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-51" title="ketiduran2" src="http://poerwodewe.files.wordpress.com/2008/11/ketiduran2.jpg?w=490" alt="ketiduran2"   /></a></p>
<p>Artikel kali ini mengingatkan kepada sahabat-sahabat saya seprofesi untuk senantiasa berhati-hati dalam menjalankan aktivitas sebagai controller. Karena tidak semua error yang terjadikarena kesalahan ataupun kelengahan kita dalam menjalankan profesi kita sebagai ATC. Bukan berarti ini adalah pembenaran bagi kita, melainkan hanyalah peringatan bahwa kesalahan itu bisa terjadi pada siapa saja, kapan saja dan di mana saja.</p>
<p>Terkadang saat-saat terpenting kita lewatkan gara-gara kita ketiduran, terkadang kesempatan emas terlewatkan gara-gara ketiduran, namun pernahkah terbayang gara-gara ketiduran puluhan bahkan ratusan nyawa terancam??<span id="more-50"></span></p>
<p>Di Mumbai pernah terjadi sebuah pesawat yang seharusnya mendarat di Mumbai malah kebablasan sampai di kota Goa. Bagi ATC kemungkinan ini sangat kecil walaupun ada, apalagi gara-gara pilotnya ketiduran.</p>
<p>Setelah bekerja semalaman, pilot itu tampaknya lelah sekali dan ketiduran setelah take off dari Jaipur. Dari Jaipur, pesawat itu terbang dengan autopilot. Ketika menara kontrol udara di Mumbai berusaha memberi tanda pendaratan ke pesawat itu, pesawat itu ternyata cuek saja dan malah menambah kecepatan menuju Goa. Menara kontrol pun langsung sadar bahwa pesawat itu tidak merespons instruksinya. (okezone.com)</p>
<p>Untungnya si pilot langsung terbangun dan memutar balik pesawat. &#8220;Pesawat itu sudah kebablasan sekitar 160 km dari Mumbai. ATC sampai mengira pesawat tersebut dibajak.(okezone.com)</p>
<p>Ternyata hal serupa juga pernah terjadi Hawai AS. Setelah pesawat lepas landas, pilot lantas tidur. Akibat perilaku sangat membahayakan ini, pilot dan<em> co-pilot</em> pun <em>grounded</em>.</p>
<p>Kasus unik dan ceroboh ini terungkap dari rekaman percakapan petugas menara pengawas di Bandara Hilo dengan pesawat dengan nomor penerbangan 1002 yang disiarkan stasiun TV KGMB, Jumat 14 Maret 2008.</p>
<p>Dalam rekaman itu jelas terdengar perempuan petugas menara itu berulang kali mengontak radio pilot pesawat maskapai Go! tersebut, sekitar 15 menit setelah pesawat meninggalkan Bandara Honolulu.</p>
<p>Pesawat itu menjalani rute antarpulau di Hawaii, AS, dari Honolulu ke Hilo, sejauh 344 km. Di dalam pesawat itu terdapat <em>pilot</em> dan<em> co-pilot</em>, seorang pramugari, dan 40 penumpang.</p>
<p>Nah kasus-kasus membahayakan diatas terjadi karena pilot tertidur, namun masih bisa dibangunkan oleh ATC&#8230; Nah sekarang kalau ATCnya ketiduran disaat traffic padat&#8230; apa yang terjadi????</p>
<p>Be safed guy&#8217;s</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/poerwodewe.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/poerwodewe.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/poerwodewe.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/poerwodewe.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/poerwodewe.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/poerwodewe.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/poerwodewe.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/poerwodewe.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/poerwodewe.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/poerwodewe.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/poerwodewe.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/poerwodewe.wordpress.com/50/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/poerwodewe.wordpress.com/50/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/poerwodewe.wordpress.com/50/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=poerwodewe.wordpress.com&amp;blog=2870979&amp;post=50&amp;subd=poerwodewe&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://poerwodewe.wordpress.com/2008/11/13/ketiduran-adalah-malapetaka/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/dd6b87504e8951bb0bca13bd13209fe3?s=96&#38;d=http%3A%2F%2F1.gravatar.com%2Favatar%2Fad516503a11cd5ca435acc9bb6523536%3Fs%3D96&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">poerwodewe</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://poerwodewe.files.wordpress.com/2008/11/ketiduran2.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">ketiduran2</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
