JUST CULTURE

Hello prend…. ngomongin JUST CULTURE yuk…..
Hahaha…udah jadul yah….?? Ah..gak juga tuh…

Salah satu kunci sukses dalam mengimplementasikan Safety Regulation adalahpenerapan prinsip Just Culture, yaitu bagaimana mengelola “blame” dan “punishment”.

Saya mencoba bertanya ke beberapa orang, apaan sih yang dimaksud JUST CULTURE…??? Jawabannya muacem-macem boss.. apa karena artikel yang dibaca sumbernya beda-beda, ato yang ngajar beda ya?(perasaan ga pernah diajarin materi kaya ginian deh).. atau pada ngarang biar ga dibilang KUPER ya…? hehe..🙂

So inilah jawaban mereka…
1. Just Culture adalah hanya budaya, just=hanya dan culture = budaya (ini jawaban mayoritas meskipun dengan penjelasan yang bermacam-macam and so pasti puanjaang..)
2. Just Culture adalah budaya keadilan (hmm.. just-nya singkatan dari justice kali yah…)
3. Ada lagi jawaban lain yang saya sendiri lupa kaya gimana abis bukannya bikin ngerti tapi malahan jadi bingung… bukannya salah sih tapi puaanjaang…

BTW… alias by the way, saya coba mencari dan mengumpulkan artikel terkait JUST CULTURE itu sendiri dari mbah Google yang terkenal itu, karena saya menganggap sudah semestinya prinsip Just Culture ini diterapkan di tempat kita cari makan…ups kurang halus ya bahasanya…OK diganti “tempat kita mengabdi”…😉

DEFINISI
Banyak Artikel yang menjelaskan tentang Just Culture ini, karena sebenarnya ini istilah umum dan banyak organisasi lain (non penerbangan) yang juga telah meng-aplikasi-kan prinsip Just Culuture ini. Kalau begitu.., kita fokus pada masalah Aviation Safety saja, atau lebih fokus lagi ke masalah ke-ATC-an saja lah ya…

Dari postingan artikel pada http://www.dgca-catt.org tanggal 26 mei 2009 (cuman ngliat bahasanya sih terjemahan dari Google…hehe) menyebutkan bahwa istilah Just Culture dipakai oleh ICAO dan industri penerbangan untuk membiasakan orang-orang tidak disalahkan atas kekeliruan yang dikerjakan melainkan dituntut untuk bertanggung jawab atas tindakannya, belajar dari kesalahan sendiri dan kesalahan orang lain.

Artinya Just Culture merupakan budaya yang fair alias adil, adil bagi individu maupun organisasi atau instansi. Maksudnya lagi adalah tenaga operasional (ATC) percaya ama management-nya dan sebaliknya para manager juga percaya kepada tenaga operasional-nya. Segala ancaman resiko bahkan insiden dibicarakan secara terbuka dengan pola pikir dan cara pandang yang sama yaitu untuk menambah pengetahuan mengenai strategi bagaimana cara meningkatkan safety.

Saya lebih jelas lagi dengan pemaparan Roderick D. van Dam (Head of Legal Service, EUROCONTROL) pada ICAO / ASPA Regional Seminar, 10-11 April 2007 di Mexico (cuman sayang saya ga diundang…;P) . Yang dimaksud Just Culture yaitu:

“A culture in which front line operators or others are not punished for actions, omissions or decisions taken by them that are commensurate with their experience and training, but where gross negligence, wilful violations and destructive acts are not tolerated”

Just Culture memperlakukan manusia dengan adil dan mengakui bahwa manusia bisa berbuat salah, kesalahan yang benar-benar tidak disengaja merupakan hal yang wajar. Tidak langsung memberikan judgement bahwa tindakan dan keputusan buruk yang diambil dari seorang ATC merupakan kesalahan dan harus dihukum. Namun demikian Just Culture juga tidak memberikan toleransi terhadap kecerobohan dan kesengajaan (pelanggaran murni) yang mengakibatkan kesalahan berulang sehingga membahayakan safety.

Kesimpulannya adalah Just Culture adalah Budaya Berimbang atau Adil (Horee jawaban di atas ternyata ada yang benar…..piss)

KOMPONEN UTAMA
Menurut Roderick D. van Dam Ada dua komponen utama mengenai Just Culture itu sendiri, yaitu:
1. No Punished
Yang tidak pantas mendapatkan punishment adalah segala kesalahan akibat dari tindakan, langkah dan keputusan yang diambil oleh ATC berdasarkan pengetahuan yang mereka peroleh dari training dan pengalaman yang dimiliki.

2. No Tolerated
Yang tidak bisa ditolerir adalah kelalaian/ kecerobohan, pelanggaran yang disengaja dan tindakan destruktif/ merusak.

Sebuah artikel menarik dari Fuad Abdullah, VP Quality Assurance and Safety (GMF Aero Asia) dalam http://www.tabloidaviasi.com mencontohkan:
Ada dua perbuatan yang menimbulkan hasil atau akibat yang relatif sama yakni membahayakan diri sendiri. Pada kasus pertama yaitu anak bermain bola di jalan raya, akibatnya (kecelakaan) mungkin terjadi dan mungkin tidak terjadi. Pada kasus kedua yaitu anak bermain sepeda, akibat (kecelakaan) anak jatuh sudah terjadi.
Jika hukuman yang kita berikan hanya didasari atas hasil atau akibat, anak yang jatuh dari sepeda tentu mendapat hukuman lebih berat. Tapi, jika kita timbang dari sudut pandang lain, tentu berbeda kesimpulannya.
Kasus anak bermain bola di jalan raya dilakukan dengan sengaja. Sedangkan anak jatuh dari sepeda bisa dipastikan tidak sengaja. Faktor sengaja dan tidak sengaja ini harus menjadi pertimbangan utama menentukan apakah suatu perbuatan patut mendapat hukuman atau tidak, serta menentukan kadar hukuman. Hukuman dijatuhkan bertujuan agar si terhukum tidak mengulangi lagi di masa mendatang.
Hukuman hanya efektif dan produktif untuk perbuatan yang dilakukan dengan sengaja. Sedangkan menghukum orang yang tidak sengaja melakukan ”kesalahan” tidak efektif dan bahkan kontra produktif. Menghukum anak yang jatuh saat belajar bersepeda bisa berdampak tidak produktif yaitu anak tidak mau lagi belajar bersepeda.
Jadi kalau ada pesawat melakukan go arround, nearmissed atau mengirimkan komplain, perlu dikaji dan dilihat dahulu apa yang melatarbelakanginya. Tindakan go arround, nearmissed, komplain dan lain-lain yang pada jaman dahulu menjadi momok ATC, merupakan akibat. Jika ada yang bertanya, bagaimana kalau disengaja? Lha saya balik bertanya, ah masa iya sih ATC sengaja melakukannya? Berdasarkan pengalaman saya, ATC (di ruangan ber-AC saja) bermandi keringat jika terjadi kepadatan traffic. Mereka berusaha bagaimana caranya menyelamatkan ribuan nyawa dalam pesawat yang dipandunya. Dimana letak unsur kesengajaan jika terjadi hal-hal tersebut. Jika dari hasil investigasi membuktikan adanya kesalahan, saya bisa menyimpulkan kemungkinan besar kesalahan tersebut bukan disengaja.
Kesalahan secara tak sengaja biasa disebut error dan kesalahan yang disengaja disebut violation. Jika dilihat dari akibat, baik error maupun violation sama. Yang membedakan hanya intention atau niatnya. Error merupakan sesuatu yang manusiawi (to error is human) dan setiap orang pernah melakukannya. Karena itu error harus diterima secara apa adanya.
Human error tidak mungkin dihilangkan sama sekali, tapi bisa dikelola lewat penerapan teknologi yang tepat, pelatihan berkesinambungan, dan implementasi aturan yang konsisten.

MEMBANGUN JUST CULTURE
Kembali pada Just Culture. Untuk membangun Just Culture/ budaya adil sekurangnya harus didukung tiga kebijakan utama.

Pertama, kebijakan tentang pelaporan yang bebas dan jujur (free and frank reporting system) yang harus dibangun dengan komitmen kuat seluruh pimpinan organisasi. Sistem ini harus non punitive yakni seseorang tidak dihukum karena membuat laporan, termasuk laporan yang melibatkan dirinya. Pada situasi dan kondisi tertentu dia bahkan patut mendapat apresiasi.

Kedua, kebijakan tentang batasan perilaku yang bisa diterima dan tidak bisa diterima. Batas antara hal yang harus dilakukan (do) dan yang tidak boleh dilakukan (don’t) harus jelas. Daftar ‘‘halal-haram ‘‘ ini bertujuan menghancurkan norma ‘sesat ‘ yang mengurat akar dalam kelompok kerja.

Ketiga, kebijakan tentang penerapan disiplin atau Disciplinary Policy yakni peraturan atau kebijakan tentang kadar atau tingkat hukuman. Dalam menjatuhkan hukuman harus mempertimbangkan berbagai faktor, termasuk sengaja atau tidaknya suatu perbuatan.

Hampir semua organisasi yang menerapkan Safety Management System (SMS) dengan baik, membangun Disciplinary Policy mengacu pada Culpability Chart-nya Prof. James Reason dari University of Manchester United Kingdom. Beberapa organisasi melakukan sedikit modifikasi dan penyederhanaan. (Fuad Abdullah, http://www.tabloid aviasi.com)

IMPLEMENTASI JUST CULTURE
Bagaimana Just Culture bisa diimplementasikan?
1. Melihat kembali dan meng-implementasi-kan mana saja regulasi, struktur dan prosedur yang bisa segera dilaksanakan, baik yang sifatnya Lokal (SOP, Skep Direktur, dll), Nasional (UU no.1 2009, CASR, dll) dan Internasional (Doc. ICAO, Annexes, dll)
2. Tidak hanya fokus pada masalah legal formal regulasi yang ada, melainkan juga melakukan dialog/ seminar-seminar safety antara pihak-pihak yang terkait( regulator, management ANSP, ATC), membangun kepercayaan dan komunikasi, serta melaksanakan training-training yang recomended.
3. Menghormati peran dan tanggung jawab masing-masing pihak
4. Melakukan pendekatan kolaborasi dari semua pihak terkait
5. Menggunakan tehnik dan pengalaman terbaik
6. ATC melaporkan segala sesuatu yang menyangkut safety, dan management menngelola laporan yang diterima sebagai aset dalam meningkatkan safety.

Yang terakhir sahabat sekalian, penerapan Just Culture sudah sepatutnya diterapkan di lingkungan kerja kita. Tidak hanya slogan dan kampanye saja. Kita permudah langkahnya. Mulai sekarang jangan ragu melaporkan segala sesuatu yang menyangkut safety.

Kebenaran mutlak hanyalah milik Allah Al – Haq, yang salah adalah produk manusia. Kalau ada yang salah mohon diingatkan. Silahkan berkomentar demi kemajuan kita bersama. Khususnya kemajuan saya … hehe… tks..

Dheny Purwo H.
Radar Controller, ATS Soe-Ta

 


2 responses to “JUST CULTURE

  • Whiskey Alpha

    setuju pak.. Just Culture harus menjadi budaya pikir dan tindakan kita semua. satu kekurangan di lingkungan kita adalah jajaran pengambil keputusan ATS kadang tanpa disadari membiarkan terjadinya bahaya laten yang berpotensi terhadap terjadinya incident maupun accident. contohnya adalah pola pikir bahwa indikator kesuksesan kerja ATC hanya no BOS & BOC, pemikiran ini hanya menitikberatkan pada hasil dan melupakan prosesnya. sepintas, pola pikir ini masuk akal tetapi ingat bahwa proses pelayanan jauh lebih penting untuk diutamakan karena safety nantinya akan otomatis mengikuti. faktor proses ini memang lebih sulit dan njelimet karena statusnya yang multifaktor. sedangkan bila titik beratnya adalah hasil, maka apapun yang dilakukan oleh ATC adalah halal yang penting no BOS & BOC. Bila demikian, dalam pelaksanaan pemberian pelayanan, yang ada adalah menang kalah (win lose) bukan win win. kecenderungan yang terjadi adalah tidak ada usaha perbaikan, menganggap semuanya oke dll dalam kata lain kita akan terlena dengan keadaan yang “kondusif” ini. apabila kita akan melakukan perubahan terasa susah karena akumulasi kesalahan yang menumpuk sudah menjadi benang kusut yang tidak lagi ketahuan ujung pangkalnya.
    Do the best No regrets (kerjakan sebaik-baiknya supaya tidak ada penyesalan)

  • dheltawhiskey

    kok saya merasa sekarang benangnya sudah mulai kusut mas… hehe… lets make it better… keep it simple….. semangat berubah adalah kunci pokok yang harus kita tanamkan… setuju mas We A… tengkyu komen-nya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: